“REALITA”
Karya : Mutia Nurul Cahyani
Bak pisau bermata dua..
Itulah diri mu..
Diam...
Dan hanya tersenyum..
Di satu sisi dia akan mencabik lawannya..
Di sisi lain dia akan menikam dirinya
sendiri..
Tak ada kata ragu..
Tak ada kata penyesalan...
Tak ada yang tau..
Tak ada satu orangpun yang tau..
Kapan itu terjadi..
Dan kapan itu berakhir..
Satu hal yg kami tangkap...
Kau hanya tersenyum..
Dan berkata “tenang, aku ada disini”
Dan kembali terdiam..
Kami tak butuh senyuman mu..
Kami tak butuh semua itu..
Kami sangat kuat..
Kami benar-benar kuat..
Sekali pun kaki kami berlumuran darah..
Sekali pun nyawa kami melayang..
Apakah kau akan datang ?
Apakah kau akan kembali ?
Akal sehat mu mungkin telah tiada..
Nurani sekalipun tak kunjung datang..
Penyesalan...
Apakah masih ada ?
Disini kami meringis kesakitan..
Disini kami dipermalukan..
Disini kami di abaikan..
Disini,,,
Di bumi pertiwi kami di musnahkan...
Kami tak minta dikasihani..
Kami tak minta disanjungi..
Tapi,, tengoklah kami..
Tengoklah, walau hanya sejenak..
Sungguh kami tak butuh uang mu..
Jikalau itu akan memperbudak mu..
Sungguh kami tak butuh janji mu..
Jikalau hanya omong kosong belaka..
Mungkin bagi mu..
Kami hanya nada-nada sumbang yang tak berarti..
Riak-riak kecil di tepian pantai..
Yang tak mengerti apa-apa...
Tapi satu hal..
Tuhan tak akan pernah diam..
Tuhan tidak buta..
Tuhan tidak tuli..
Tuhan, melihat semuanya..
Tunggulah..
Tunggulah dan kau akan mengetahuinya...
Komentar
Posting Komentar